Sabtu, 02 Juli 2016

Pealtiahan IN H2



 
Indoluxe, 18 Juni 2016 telepon berdering tepat pukul 03.00 WIB waktu sahur tiba. Ku kenakan kaos berwarna hijau dengan bercelana pendek setelah sebelumnya seperti biasa aku mandi. Mandilah yang mampu menyegarkan isi kepala ini dengan mimpi-mimpi dan bualan yang tak tahu arahnya. Ribuan air yang menetes mengenai kulitku memasahi seluruh tubuhku, kemudian segera aku berjalan menuju Ballroom atau sahur corner.
Lift terasa lama tiba, mungkin terlalu banyak orang yang ada di dalamnya dan terlalu banyak pula pengharapan mereka. Nah, ini tiba pula lift pengantar sahur. Ketika lift terbuka, benar saja penuh sesak isi di dalamnya dengan amat terpaksa aku harus menunggu lift berikutnya. Aku keluar dari lift terlihat pegawai hotel telah menunggu tamu yang hendak memasuki Ballroom untuk sahur. Raut muka ngantuk mereka terlihat namun karena tuntutan pekerjaan, mereka harus tetap terjaga. Mereka duduk dan membawa catatan tamu hotel di atas meja panjang dengan ramah mengecek tamu-tamu yang datang siliberganti.
“Selamat pagi, bapak. Dari kamar berapa?”
“Kamar 810, Mas”
“Sendirian ya, pak?!”
“Iya”,jawabku.
Duh, kok tahu kalau aku lagi sendirian. Apa memang dari wajah ku kelihatan? 😭 .Bawa perasaan bener sahur kali ini, makan ati. Hidangan terparkir memanjang ala resepsi pernikahan tinggal kasih kursi pelaminan di depan sana menghadap para tamu undangan. Bayangan-bayangan berseliweran seperti lalu lintas Yogyakarta yang mulai macet, karena banyak jomblo yang naik motor sendiri menuh-menuhin jalan.
Pukul 08.00 peserta akan memulai pelatihan sesuai dengan kelas masing-masing. Papan pengumuman diserbu peserta yang hendak mencari namanya di daftar yang telah ditempelkan di papan whiteboard . Sarjono, namaku terdapat di lembar pertama atas kanan dengan nomor urut 17, kelas A SMP VIP Lounge Lobby. Setelah melihat daftar kelompok dan tempat aku kembali ke kamar hotel untuk mempersiapkan pagi nanti.
Aku berjalan pelan masuk kamar karena takut membangunkan teman sekamarku, beliau Pak Tri Widiarto asal Kebumen. Sahur ku sendirian karena beliau beragama Nasrani, tidak sopan bila saya sampai membangunkannya karena langkahku. Begitu cepatnya waktu berlalu hingga tak sadar sudah siang.
Hari pertamaku memulai pelatihan, sebelum memasuki ruang VIP Lounge kami antre melakukan presensi terlebih dahulu. Lobby sudah banyak peserta dengan membawa tas dan berpakain rapi. Kami pun berkenalan, satu sama lain. Ternyata ada yang berasal dari SMP di Bantul, Kebumen, Sleman, Cilacap dsb. Mairina seorang guru dari SMP 2 Pleret orang yang aku kenal pertama kali di kelas ini, ternyata ia adalah teman salah satu guru di SMP tempatku mengajar, kami akhirnya menjadi satu kelompok diskusi. Peserta memasuki ruangan, saya pun duduk tidak jauh dari jendela.
Rasa minder kambuh lagi, bagaimana tidak mereka ada dari Widya Iswara, P4TK, kepala sekolah, sedangkan saya hanya guru yang baru satu tahun mengajar minim pengalaman. Saya harus bekerja keras pikir ku dan batinku seraya bergumam. Dua orang datang kemudian duduk di depan menghadap pandangan kepada kami. Yah, ternyata mereka adalah mentor kami Bapak Hari Wibowo dan Ibu Dwi Widowati. Bapak Hari berperawakan tinggi besar tetapi dengan wajah yang ceria membuat kami agak tenang. Ibu Dwi Widowati , calon mertua hehehe. Beliau ramah dengan perawakan kecil mungil menebar senyum kepada para peserta mencoba berinteraksi melalui bahasa senyuman.
Bersambung ....

Puisi : Tersenyum




TERSENYUM

Senyum itu menarik, menghilangkan rasa panik.
Senyum itu berbagi, menebar hangatnya pagi.
Senyum itu manis menghiasi hidup yang optimis.
Senyum itu lembut meluluhkan hati yang berkabut.
Tersenyumlah sepenuh hati kepada ku.
Maka ku balas engkau dengan senyumku.
Senyum bisa menjadi bara.
Ketika senyum hanya membuatku tiada.
Kau boleh tersenyum saat kau merasa bahagia,
Tetapi jangan bahagia melihat ku sengsara.
Senyum itu dusta.
Senyum itu hina.
Dan
Kau tak harus tersenyum
Karena
Itu.
                                                                                    Yogyakarta, 2 Juni 2016